pawsomestamps.com – Teknologi AI Maven milik AS telah menimbulkan perhatian global setelah serangan rudal yang menewaskan 175 orang, termasuk banyak anak-anak, di sebuah sekolah dasar di Iran. Insiden tragis ini terjadi pada 28 Februari di Shajareh Tayyebeh, Minab, ketika rudal Tomahawk yang dipandu AI menghancurkan lokasi tersebut.
Menurut laporan PBB dan pemerintah Iran, lebih dari seratus korban tewas adalah anak-anak di bawah usia 12 tahun. Investigasi awal yang dilakukan oleh Pentagon mengklasifikasikan insiden ini sebagai kesalahan penargetan, di mana sekolah tersebut sebelumnya berlokasi di lahan pangkalan militer Korps Garda Revolusi Iran (IRGC). Meskipun pangkalan tersebut telah dipindahkan, data yang digunakan oleh sistem penargetan tidak diperbarui secara tepat waktu.
Citra satelit yang dirilis oleh Amnesty International mengonfirmasi bahwa sekolah tersebut telah beroperasi selama bertahun-tahun dan memiliki situs web serta akun media sosial. Hal ini menunjukkan bahwa penyerangan terhadap sekolah adalah hasil dari kesalahan dalam pengelolaan data oleh sistem AI.
AI Maven, yang dikembangkan oleh Palantir dan memiliki kontrak senilai $1,3 miliar dengan Pentagon, digunakan untuk mengintegrasikan berbagai data seperti citra satelit dan sinyal intelijen, serta menghasilkan paket serangan secara real-time. Dalam satu hari kampanye di Iran, sistem ini memproduksi ratusan koordinat untuk serangan.
Menurut beberapa mantan pejabat militer AS, kesalahan ini lebih disebabkan oleh manajemen data yang tidak akurat daripada masalah langsung pada AI. Para ahli mengingatkan bahwa penggunaan teknologi canggih dalam militer membawa risiko yang signifikan jika tidak disertai dengan pengelolaan data yang tepat. Kontroversi ini menyoroti pentingnya evaluasi dan pengawasan penggunaan teknologi AI dalam konteks militer dan kemanusiaan.